yuk bersyukur

ada sebuah ironi ketika betapa kita tahu begitu banyaknya kekayaan biodiversitas alam sekitar kita namun kita acuh begitu saja, jangankan sekadar untuk mempelajarinya, bersyukur pun hanya sedikit sekali dilakukan. padahal potensi yang begitu besar dari banyaknya kekayaan sumber daya alam ini dapat menjadi kekuatan untuk menjadikan kita sebagai manusia yang tidak berkekurangan tentunya jika kita mau lebih banyak bersyukur. tidak perlu bekerja hingga keluar negeri, di sini, di tanah kita sendiri kita mampu untuk berdikari jika kita mau berusaha lebih, menggali apa yang dapat kita manfaatkan dari sekian banyak sumbar daya yang melimpah. sekiranya memang belum bisa memanfaatkan pun selayaknya kita mempelajari dan menjaga kelestariannya siapa tahu anak-cucu kita nanti bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan apa yang dapat kita manfaatkan dari sekian banyak sumber daya yang melimpah di tanah air ini. mungkin akan banyak yang akan dilakukan, karena semakin banyak yang mau mempelajari, rahasia Allah pasti akan terkuak bahwa apa yang Allah berikan berupa kekayaan alam ini memang memiliki banyak manfaat. dan ini mengharuskan kita untuk banyak bersyukur kepada Allah.

“ya Allah berilah aku ilham agar senantiasa mensyukuri nikmat-Mu, dan jadikanlah aku termasuk hamba-Mu yang bersyukur dan termasuk orang yang shaleh”

ungkapan rasa syukur tersebut apakah hanya cukup sekadar diucapkan saja di mulut, lalu menguap bersama udara napas yang keluar ke udara bebas berkeliaran bersama debu dan asap jalanan?

yuk realisasikan rasa syukur kita dengan perbuatan kita yang senantiasa mau mempelajari alam ini dengan baik dan menggali potensi manfaat yang nantinya dapat diberikan kepada banyak ummat. yuk realisasikan syukur kita dengan senantiasa menjaga kelestarian ekosistem yang ada. memperbaiki  ekosistem yang rusak atau tak terawat, dan senantiasa mau memberikan sedikit waktu untuk turut berpartisipasi dalam upaya pelestarian dan perawatan alam kita, alam anak-cucu kita.

save our nature, save our biodiversity!

salam lestari rimba raya!

Perjalanan Mencari Inspirasi di Kampus Tercinta

Pernah suatu saat aku berjalan berkeliling kampus. Cari inspirasi, barangkali aku bisa menemukannya di sudut-sudut kampus yang aku tak pernah lewati dan baru kali ini aku melihatnya untuk pertama kali, barangkali dari cerah warna bunga dan dedaunan yang baru kali ini juga aku temui dapat memberiku inspirasi. Aku terus berjalan sambil memikirkan inspirasi apa yang telah apa aku dapat selama menapakkan kaki setapak demi setapak. mungkin sudah berpuluh-pulh tapak aku pernah melewati tempat itu. Tapi ada beberapa tempat juga yang aku belum pernah lewati bahkan seolah itu asing bagiku. Kampus sebesar ini kenapa aku masih melewatkan beberapa tempat yang ada, padahal aku sudah dua tahun berada di sini.

Aku terus menyusuri jalanan paving blok yang sengaja dibuat untuk jalan. Aku tengok kanan kiriku dan mencoba memahami apa yang bisa aku dapat dari apa yang telah aku lihat. Semakin lama semakin bingung akan apa yang telah aku dapat.  Aku tak dapat apa-apa. Aku kurang bisa membaca lingkungan sekitarku dengan segala fenomenanya.

Sejenak termenung, merenungi tentang apa yang telah aku lihat dan aku rasakan. Jalanan yang rusak, air danau yang terkotori denagn sedikit sampah, tumbuh-tubuhan yang makin hari makin sedikit termakan pembangunan gedung, dan terik matahari yang menyengat. Aku terus berjalan, mencoba mengamati di sudut-sudut lain. aku susuri taman dan pohon-pohon besar setelahnya. Kulihat ada bangku taman melompong. Tak adakah yang memanfaatkan? Pikirku mencoba mengira-ira mengapa bangku taman yang terbuat dari material bahan bangunan berbahan pasir, semen dan batu bata itu tak digunakan oleh para mahasiswa. Mungkin tempatnya kurang strategis. Aku mencoba lebih melihat lagi ke sekeliling. Di koridor dekat situ, banyak para mahasiswa yang berkumpul. Ada yang serius seolah sedang merencanakan perang besar, ada yang sibuk melihat layar laptop seserius ketika memperhatiokan penjelasan dosen killer, ada yang tertawa lebar seolah sedang menonton film komedi tawa di tv, tapi ada juga yang merenung sendirian di sudut koridor mungkin sedang mencari inspirasi sepertiku.

Aku kembali memalingkan wajahku ke arah bangku taman tadi. Masih kosong. Sejenak aku merenung kembali. Adakah yang kurang dari bangku taman itu? Tempatnya nyaman, asri, sejuk, dan bersih. Tapi mengapa bangku taman tadi tak seramai di koridor? Sekali ini aku hanya menduga bahwa kebanyakan mahasiswa lebih suka memilih lesehan daripada duduk. Pantas saja rumah makan lesehan banyak dikunjungi para pembeli. Mungkin saja., karena sekali lagi aku hanya menduga-duga.

Kembali aku berjalan berkeliling kampus. Aku susuri koridor yang digunakan berkumpulnya banyak mahasiswa. Aku amati satu persatu wajah-wajah mereka. Tergambar di wajah mereka mereka sedang merencanakan sesuatu, mungkin agenda besar untuk mengubah dan meluruskan tatanan kehidupan Indonesia lebih baik. Aku amati juga seragam-seragam mereka satu persatu. Tertulis di jaket-jaket mereka sebuah tulisan yang menarik perhatianku. Inspiring People, wah orang luar biasa sepertinya. Ada lagi tulisan “Cintai Buah Lokal”, sungguh menggambarkan kampus pertanian yang membela kaum petani dalam negeri. Ada lagi tulisan yang menari perhatianku, “Menantu Ideal Adalah Mahasiswa IPB”, tersenyum aku membaca tulisan itu tapi bangga juga karena berkesempatan menjadi calon menantu ideal, hhe.

Ada satu hal yang membuatku kurang selama berkeliling tadi. Tak ada yang aku kenal. Bnyak orang yang bersua dan bersapa ketika bertemu. Tapi aku, hanya bisa melihat mereka tersenyum satu sama lain, saling sapa satu sama lain dan bertanya kabar masing-masing. Sedih juga. Sekalinya bertemu dengan temanku, mereka seperti sedang diburu waktu. Semua orang yang aku kenal sibuk denagn agenda yang padat. Aku kembali sedih mengingat dulu aku adalah aktivis paling sibuk di SMA dengan mengetuai dua organisasi besar dan dua anggota organisasi besar juga yang notabene banyak agenda padat tiap harinya sampai-sampai aku pulang sore hampir tiap hari. Tapi itu dulu, sedang sekarang fisikku yang lemah mengharuskanku lebih banyak beristirahat dan tidak bisa lagi banayak beroganisasi. Tapi ngiri sebenarnya ketika teman-temanku sibuk sedang aku hanya santai-santai saja tanpa melakukan apa-apa.

Hush, buang jauh-jauh rasa itu. Aku kembali pada rencana awalku mencari inspirasi. Aku kembali berjalan meninggalkan koridor dan menuju sebuah gedung besar “Graha Widya Wisuda”. Aku perhatikan gedung itu sambil berkata dalam hati, “tunggulah dua tahun lagi aku akan diwisuda di situ, dengan senyum bangga kedua orang tuaku”. Aku meneruskan perjalananku. Kini aku keluar wilayah kampus. Aku susuri sebuah trotoar samping jalan besar. Banyak mobil dan motor berlalu lalang hingga menyebabkan macet. Tiba-tiba aku teringat perkataan sesorang, “Iyalah macet angkotnya banyakan gitu”. Tapi ada yang janggal sepertinya jika kita menyalahkan angkot yang terlalu banyak jumlahnya. Aku malah cenderung ingin membela angkot yang banyak itu. Para sopir angkot kebanyakan hanya bisa mengerjakan itu saja untuk saat ini, dari angkotlah mereka bisa menghidupi dirinya dan keluarga. Mereka bukan lulusan sarjana atau sekolah yang tinggi. Keahlian yang mereka miliki untuk saat ini pun hanya menyetir. Wajarlah jika mereka menjatuhkan pilihan pada sopir angkot sebagai pekerjaannya. Jadi siapa yang salah dalam kemacetan ini? Dari sisi pribadi aku lebih cenderung menyalahkan para pengemudi mobil dan motor pribadi. Mungkin jika mereka mau bijak menggunakana angkot untuk mobillisasinya, kemacetan yang selama ini terjadi akan berkurang. Angkutan umum (angkot) yang tersedia sudah lebih dari cukup, bahkan dibilang terlalu banyak. Tapi kembali lagi kepada para pengemudi mobil dan motor pribadi, maukah mereka beralih untuk naik angkutan umum (angkot)?

Langkah kakiku semaki jauh saja, sebentar sudah sampai pada sebuah tempat yang sering disebut pasar. Banyak dagangan yang diperjualbelikan dari makanan, pakaian, alat-alatelektronik, hp dan perlengkapannya, hingga rental-rental koputer dan warnet. Jantung para mahasiswa sepertinya karena banayak aku temui mahasiswa yang berlalu lalang di sekitar situ. Banyak transaksi yang terjadi. Tapi banyak juga yang sekadar jalan-jalan sepertiku, mungkin cari inspirasi juga. Pasar memang selalu ramai pengunjung, hanya sepi ketika para mahasiswa mudik lebaran atau libur semester. Ada hal yang mengganjal dalam hati ini ketika hampir sampai di ujung pasar, tempat sampah yang minim. Ya sampah mungkin telah menjadi sebuah momok bagi banyak masyarakat. Persoalannya menjadi topik yang semakin hari semakin asyik untuk diperbincangkan. Sejenak kembali berfikir apakah tidak ada upaya atau sesuatu program yang diberikan mahasiswa terutama para aktivisnya untuk membuat kenyamanan pasar yang menjadi jantung mahasiswa itu lebih nyaman dan enak dikunjungi?

Beberapa menit aku berjalan aku bosan dengan apa yang aku sendiri fikirkan. Aku terlalu menuntut segalanya baik, tapi belum sepenuhnya memberikan solusi karena aku hanya mahasiswa biasa yang tak punya basis massa. Aku mencoba melanjutkan perjalananku menuju tempat para aktivis kampus. Sudah kuduga, mereka sedang sibuk dengan agenda yang telah mereka buat masing-masing. Di tiap ruangan terlihat mereka sedang serius membahas suatu program kerja yang entah apa, mungkin suatu agenda besar untuk kemajuan negeri ini. Lalu aku menuju lantai dua mencoba melihat apa yang dilakukan para aktivis di lantai dua. SEPI. Lantai dua terlihat lebih sepi daripada lantai pertama. Mungkin masih mandi atau sibuk mengerjakan tugas di  kost atau kontrakan masing-masing. Aku istirahat sejenak di sebuah bangku di depan salah satu ruang. Sambil menunggu maghrib aku dan menunggu barngkali lantai dua ini akan ramai orang, aku merogoh buku dan pulpen dari tas ranselku. Aku tuliskan apa yang telah aku lihat dan rasakan selama berkeliling tadi. Baru beberapa paragraf aku menulis adzan maghrib memanggilku untuk menunaikan sholat. Bergegas aku menuju mushola di gedung itu. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat mushola yang tidak begitu terawat. Timbul pertanyaan dalam hatiku, “mengapa gedung yang menjadi basis para aktivis mahasiswa ini musholanya tidak terawat? Apakah hal yang berkaitan dengan agama telah ditinggalkan?”. Miris, sudah ruangannya sempit, kotor pula.

Aku putuskan untuk beranjak dari gedung itu menuju mushola baru di tengah kampus. Sedikit yang sholat ternyata, padahal aktivitas para aktivis kampus banyak dilakukan di dekat situ. “Apakah memang hal yang berhubungan dengan agama mereka nomor duakan?” Astaghfirullahal’adziim. Tapi aku harus berhusnuzon mungkin mereka sedang memutuskan perkara besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan hanya tinggal sebentar saja sampai memutuskan suatu keputusan. wallahu ‘alam.

Setelah selesai sholat Maghrib aku kembali berjalan melewati jalan dekat asrama. Di sana para mahasiswa baru berkumpul. Terbayang wajah-wajah generasi calon-calon pemimpin bangsa yang akan memberikan dampak positif terhadap kemajuan negara Indonesia ini khususnya dalam hal pertaniannya. Semoga kemajuan akan lahhir dari tangan-tangan mereka. Insya Allah.

Langkahku belum sampai di situ saja. Aku melanjutkan perjalananku ke warung makan untuk sekadar menjinak keinginan perut yang sedari tadi keroncongan. Setelah makan aku melanjutkan lagi perjalanan menuju sebuah masjid kampus besar. Di tengah jalan aku bertemu dengan dua orang teman yang sedang asyik membicarakan sesuatu. Usut punya usut mereka sedang membicarakan tentang agenda penyelamatan lingkungan (kok bahasanya makin kereen ya?). Aku menjadi tertarik kala itu. Sampai pada suatu waktu temanku menunjuk pada sesosok tanaman yang berada di sebuah selokan. Ternyata ia satu pemikiran denganku, mempunyai keinginan untuk mengembalikan anakan pohon-pohon besar ke habitat semestinya agar pohon tersebut bisa tumbuh besar sebagaimana mestinya ia tumbuh. Akhirnya ada juga yang satu pemikiran denganku. Aku seolah mendapat kucuran air dari sumber mata air pegunungan. Sejuk….

 

Teguh Purwanto

Mahasiswa Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

How To Go To IPB From Cilacap

by train

naik kereta jurusan jakarta kota 25ribu, trus naik kereta lagi jurusan bogor comuterline harga 9ribu, lalu naik angkot 03 seharga 3ribu turun di terminal Laladon atau Bubulak, naik angkot lagi angkot “kampus Dalam” bayar 2ribu, sampai dah tuh di IPB.

by Bus

kalo bus ini ada beberapa opsi

a. langsung ke baranang siang (Bogor)

biasanya ini untuk mahasiswa di Cilacap sebelah barat (Majenang, Dayeuhluhur, dan sekitarnya) karena memang ada bus yang langsung ke Bogor. Pertama naik bus Cilacap-Bogor turun di terminal Baranang Siang, Bogor. paling tiketnya antara 50-60ribu. Lalu dari Baranang Siang naik angkot 03 jurusan Laladon/Bubulak  seharga 3ribu turun di terminal Laladon atau Bubulak, naik angkot lagi angkot “kampus Dalam” bayar 2ribu, sampai dah tuh di IPB. nah ini alternatip pertama.

b. ke Jakarta dulu

tidak semua ada bis yang menuju ke Bogor langsung, maka kita terpaksa harus ke Jakarta dulu, yaa sekalian jalan-jalan lah. Cari bis yang menuju ke Kampung Rambutan. Cilacap-Kampung Rambutan atau yang lewat dan berhenti di Kampung Rambutan. Tikatnya juga antara 50-60an ribu tergantung jenis bisnya, bisa juga nyampe 65ribu. Setelah sampai Kampung Rambutan turun dan langsung menuju ke terminal bus antarkota. Cari bus AGRAMAS warnanya merah Jurusan BOGOR (hati-hati loh ya Agramas banyak jurusannya). Cari yang jurusan Bogor. Harganya sekitar 8-13ribu (lupa). Setelah lama perjalanan nyampe tuh di Baranang Siang, turunlah tuh. seterusnya seperti uraian yang ‘a’, naik angkot 03 seharga 3ribu turun di terminal Laladon atau Bubulak, naik angkot lagi angkot “kampus Dalam” bayar 2ribu, sampai dah tuh di IPB.

 

itu rute yang pernah aku tempuh saat aku ke IPB, mungkin kalau ada perubahaan ongkos jalan yaa itu update terbaru kali. tapi pada intinya kalau memang tidak tahu jalan yaa tanya-tanya aja. insya Allah aman kok. Teruuus kalau emang susah percaya sama orang jalanan hubungi saja saya di 085716016843, insya Allah siap membantu. yang terpenting tidak merepotkan okey…..

yang jelas yaa nanti kalau ditanya-tanya sama siapapun jangan kayak orang ilang, berlagak aja kayak orang biasa (emang biasanya kayak gimana bang?). Intinya jangan merasa takut lah kalau memang tidak tahu. kalau bisa berlagak kayak preman (woy serem amat yak). Berani aja dah pokoke.

Apalagi ya? Stay cool wae. Kalo ada yang ngasih sesuatu, misal makanana atau minuman itu terima aja dan ucapkan terima kasih, lumayan rejeki, tapi jangan langsung dimakan takut ada ‘sesuatunya’. Tapi keep khusnudzon wae.

oh iya jangan lupa berdoa ya  di jalan, inget selalu sama ALLAH.

 

semoga sukses anak-anakku!

Lestarikan Alam Kita

Kami adalah petualang alam. Kami berpindah dari satu daratan ke daratan lainnya. Kami berpindah dari satu lautan ke lautan berikutnya. Semata kami lakukan karena asam garam di lain tempat akan berasa berbeda. dan kami taklukan tiap-tiapnyaagar kami tahu dan kami bagi ke setiap mata bahwa alam ini diciptakan sungguh indah oleh Sang Pencipta dan kita patut bersyukur serta ikut berperan andil dalam upaya melestarikannya.
Kami pengelana alam, berjalan susuri hutan, pantai dan tebing tinggi hingga gunung yang menjulang. setiap jejak sangat berarti bagi bertambahnya pengetahuan. Di sini terkadang bertemu satwa liar dan flora tumbuhan yang sama sekali belum pernah kami dengar. Etnik suku pedalaman terkadang membuat kami merinding ketakutan tapi kami mencoba tenang karena kami hanya numpang cari wawasan.
Ada banyak hal baru yang kami temukan di alam. Tentang tanam-tanaman obat suku pedalaman, tentang beragam satwa liar yang harus kita lestarikan dan flora tumbuhan yang entah sama sekali teridentifikasi. kesemuanya itu adalah hal yang selayaknya kita jaga, “Save Our Nature, Save Our Biodiversity!”. Ya, selamatkan alam kita, selamatkan biodiversitas kita, karena hutan kita kini dijarah habis-habisan, kultur masyarakat etnis pedalaman kian langka dan jarang dicinta, satwa liar kian lama kian hilang, serta tumbuh-tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat semakin jarang digunakan karena kalah pamor dengan obat-obat kimia. Kesemuanya patut kita jaga dan lestarikan. Karena itu adalah kekayaan kita. Kekayaan nenek moyang kita dan akan menjadi kekayaan anak-cucu kita kelak.

Mari kita jaga kekayaaan hayati kita, “Save Our Nature, Save Our Biodiversity!!!”. Mari jaga dan lestarikan alam kita beserta isinya, bukan untuk kita, tapi untuk anak-cucu kita kelak.

 

1 Oktober – Mengenang Hari Kesaktian Pancasila

Diam Berarti Mati Sia-sia

lagi males nulis sebenernya, tapi harus ada karya di tiap bulannya. kejar tulisan euy.

suatu hari pernah aku bertemu seorang laki-laki tua. beliau berpakaian ala jaman dulu. ala ala pejuang gitu. dengan penasaran aku bertanya pada pak tua itu.

“assalamu’alaikum, bapak boleh bertanya seuatu?” tanyaku

dengan lantang pak tua itu menjawab, “wa’alaikum salam, iya nak, ada apa? silahkan saja bertanya?”

dengan antusias aku pun bertanya kepada pak tua tentang pakaiannya yang mirip pejuang. Tanpa basa-basi pak tua itu menjelaskan dan menceritakan tentang dirinya dan pakaian mirip pejuang itu padaku.

pada zaman dulu, kakek bersama pemuda lainnya dari daerah bogor pernah melakukan perang melawan pemberontakan yang dilakukan oleh sekelompok orang  kira-kira tahun 1963. Saat itu para pemberontak secara terorganisir mengepung markas kami. mereka memblokade arus makanan ke markas. kami sering berkumpul memikirkan cara melawan dan menaklukan mereka. beberapa kali kami melawan tetap saja mereka menang. Kami hanya bisa bertahan dari apa yang tersisa. hingga suatu saat teman kakek yang memiliki baju ini berinisiatif menyamar dan bergabung dengan mereka sebagai taktik mengalahkan mereka. Kakek melarangnya karena itu sangat berbahaya dan mengancam keselamatan jiwanya. tapi saat itu ia tetap bersikukuh untuk melakukannya. Ia berkata padaku begini, “kawan, bukankah kita akan mati dalam perang ini? jika kita hanya diam saja di sini sama saja kita menunggu mati sia-sia tanpa melakukan apa-apa seolah pasrah kepada takdir yang padahal dapat kita rubah selama kita mau bergerak dan yakin bahwa kita akan menang. Mungkin hanya beberapa orang yang akan hidup jika kita bisa menang, tapi itu lebih baik daripada kita semua mati sia-sia tanpa melakukan apapun. maka dari itu kawan, aku akan korbankan diriku agar kalian tak mati sia-sia dan kalian dapat hidup bebas menikmati kehidupan ini dengan damai. Tak apa-apa kawan, aku lebih bahagia jika kalian dapat merdeka.”

sekali itu kakek menangis dan memeluk teman kakek itu. tapi lanjutnya, ” tak apa kawan, demi kalian, demi tanah kelahiran kita, demi saudara-saudaraku apapun akan aku lakukan kawan. Aku hanya butuh do’a darimu kawan, hanya itu kawan.”

semakin erat saat itu kakaek memeluknya, tapi tiba-tiba ia melepaskan pelukanku yang erat itu. bola matanya kemerahan dan terlihat menangis tapi airmatanya tak keluar sedikitpun. Ia mencoba menenangkanku dan memegang kedua pundakku. “ingatlah bahwa pejuang akan berjuang hingga titik darah penghabisan. pejuang takkan menyerah pada keadaan tanpa melakukan apa-apa. pejuang takkan mau mati sia-sia kawan.”

tangannnya lepas dari pundakku, kemudian ia beranjak meninggalkanku. “Tetap berjuang kawan! Sampaikan salamku pada Anita, aku sangat mencintainya.”Bersamaan dengan itu ia menghilang di balik semak belukar tengah hutan.

Dua hari kemudian terdengar kabar bahwa para pemberontak mati keracunan. Tak ada yang tersisa dari mereka kecuali seorang temanku yang menyamar menjadi bagian mereka.

“kemenangan milik kita! kemenangan milik kita!” katanya lantang ketika aku dan rombongan menghampirinya. kami menyambutnya penuh suka dan gembira. tapi ada hal aneh waktu itu, raut wajah temanku itu kelihatan pucat pasi. aku menghampirinya dan menanyakan tentangnya, “Hey bagaimana keadaanmu kawan? Bagaimana kau melakukannya?”

“Dimana Anita kawanku?” tanyanya menghiraukan pertanyaanku.

aku tak kuasa menahan tangis ketika dirinya menanyakan Anita, aku memeluknya erat-erat.

“Kenapa kawan? Ada apa dengan Anita? Apa yang terjadi dengan Anita?” Ia merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.

airmata ini semakin deras mengalir membasahi pipi. aku masih memeluknya erat, tubuhnya terasa lemas. “Maaf kawan, aku tak bisa menjaga Anita”

“kenapa? apa yang terjadi dengan Anita?” suaranya semakin keras terdengar, kali ini ia melepaskan pelukanku. “kenapa?”, suaranya bercampur dengan tangis yang tak terbendung.

“Anita hilang saat kau pergi menemui para pemberontak. Sampai saat ini aku belum menemukannya meski aku telah mencarinya kemanapun. Maaf kawan aku tak bisa menjaga Anita untukmu.”

tubuh teman kakek itu lalu tersungkur, nafasnya terlihat terengah dan detak jantungnya lemah. guyuran hujan menambah pilu suasana. Aku sangat tahu temanku itu sangat mencintai Anita, gadis lembut, santun dan cantik asal Muara Enim itu. Aku tahu kecintaanya pada Anita tumbuh saat pertama kalinya Anita hadir di hadapannya. Pejuang yang satu ini kalah oleh kelembutan sikap Anita. Tapi pejuang ini memendam perasaannya bahkan saat berdua dengan Anita sewaktu mengobati para gerilyawan. Sering kali aku melihat pejuang ini menulis surat untuk Anita, tapi tak pernah satupun yang ia berikan. Pejuang ini mungkin cinta mati dengan Anita.

hujan terus saja turun, aku papah tubuh pejuang itu ke rumah yang paling dekat sementara orang yang lain membereskan mayat para pemberontak. Tubuh kawan kakek saat itu sangat lemah. Detakan jantungnya seolah tak mau lagi berdetak, nafasnya semakin terengah dan sedikit. Aku mencoba menyemangatinya meski aku tahu hanya Anita yang dapat mengembalikan semangatnya untuk hidup. Aku terus mencoba menyemangatinya sebisaku, karena bagaimanapun ia adalah sahabat karibku sekaligus pahlawan yang yang telah menyelamatkan kehidupan orang-orang. “Hey bukankan kau yang sangat menginginkan kemenangan ini, tapi kenapa kau kalah setelah kau memenangkannnya. Bangkit kawanku, kembalilah seperti kawanku yang dulu!”

tiba-tiba ia melepeskan baju ini -sambil menunjuk baju yang dikenakan pak tua itu- dan memberikan pada kakek. “simpanlah baju ini sebagai kenangan bahwa aku pernah menjadi pejuang.” katanya lemah.

“Suatu saat jika kau kembali perjuang, kenakanlah itu dan pakailah semangatku. jangan menyerah pada keadaan tanpa melakukan apa-apa. ada hal yang bisa kau lakukan selama kau hidup. dan ada hal yang lebih baik daripada hanya berdiam diri.” airmatanya menetes, tapi tiba-tiba ia bangkit seolah punya tenaga baru. lalu katanya, “aku akan mencari Anita.”

“tunggu kawan, aku takkan membiarkanmu pergi dengan keadaan seperti ini.”

tapi katanya, ” tak usah khawatir kawan, aku bisa jaga diri. apa ada makanan?”

aku sedikit lega ia tak terburu-buru pergi. setelah ia makan barulah ia pergi mencari Anita, wanita yang dicintainya. Lama aku tak mendengar kabarnya. Hingga suatu hari di suatu pagi yang cerah aku mendapat surat darinya bahwa ia telah menemukan Anita yang seorang relawan itu di sebuah peperangan dan akhirnya mereka menikah. mereka menjadi relawan perang yang sangat luar biasa. sampai saat ini aku sangat merindukan sahabat lamaku itu.

“sungguh mengharukan ya kek?” tanyaku.

“ya begitulah nak, ingat ya nak jangan pernah menyerah jika kamu ada masalah. bergeraklah nak karena diam berarti mati sia-sia.”

PERMAINAN TRADISIONAL, PERMAINAN RAMAH LINGKUNGAN YANG MULAI HILANG

INDONESIA, merupakan Negara dengan bentuk negara kepulauan memiliki suku dan kebudayaan yang begitu banyak, sehingga apabila kita pelajari tak akan pernah habis. Namun kebudayaan yang begitu banyak kini mulai tersisih dengan kebudayaan asing yang mulai merambah dan menyisihkan kebudayaan kita.

Didalam kebudayaan tradisional terdapat unsur- unsur budaya, salah satunya permainan tradisional anak-anak yang lambat laun terlupakan oleh zaman. permainan yang telah ada sejak dahulu, kini mulai menghilang disebabkan adanya permainan bangsa asing yang membuat anak-anak lupa akan permainan tradisional yang bila dihitung-hitung permainan bangsa luar sangat tidak menguntungkan.

Maka dari itu saya membuat tulisan ini untuk mengingatkan kita akan kebudayaan negri kita terutama permainan tradisional.

Masih ingat kan permainan tradisional yang pernah kita mainkan semasa kanak-kanak, seperti permainan petak umpet, petak jongkok, kelereng , bentengan, congklak, dan permainan lain yang dimiliki oleh setiap daerah. Permainan tersebut muncul sudah sangat lama.

Tapi sangat disayangkan permainan-permainan tersebut sudah sangat langka di temukan atau sama sekali tidak ditemukan lagi. Dengan kemajuan tekhnologi permainan tradisional tersebut telah tertindas. Kalau dilihat anak-anak saat ini lebih suka permainan yang dikeluarkan oleh orang asing terutama di daerah barat seperti: bermain playstation, Xbox, dan game online.

Lihat saja contohnya di warnet, tidak hanya remaja saja yang tergila-gila bermain permainan tekhnologi tersebut, tetapi warnet juga dipenuhi dengan anak-anak kecil malahan orang tua pun ikutan permainan tersebut.

Sama seperti halnya cerita rakyat, permainan tradisional lahir sebagai bentuk pewarisan nilai dari para orangtua terhadap generasi muda. Permainan tradisional juga lahir dari kondisi alam dan lingkungan sekitar. Sehingga sangat disayangkan apabila warisan para pendahulu harus hilang tanpa bekas dengan perkembangan zaman yang begitu dahsyat.

KEUNTUNGAN PERMAINAN TRADISIONAL
Keuntungan permainan tradisional yaitu misalnya anak menjadi banyak bergerak sehingga terhindar dari masalah obesitas anak.
Sosialisasi mereka dengan orang lain akan semakin baik karena dalam permainan dimainkan oleh minimal 2 anak.

Selain itu, dalam permainan berkelompok mereka juga harus menentukan strategi, berkomunikasi dan bekerja sama dengan anggota tim.

Permainan tradisional sama sekali tidak membutuhkan energi listrik dan cenderung memainkannya harus berada di alam terbuka.

MELESTARIKANYA ?
Melestarikan permainan tradisional dapat kita lakukan dengan bebarapa cara seperti :
1. Mempromosikan permainan tradisional.
2. Mengadakan lomba seni budaya dengan menyertakan permainan tradisional.
3. Bagi daerah sebagai tempat wisata, dapat digunakan untuk menyambut para
wisatawan.
4. Mengajarkan permainan tradisional di pendidikan sekolah.

©[Putrie kelinci-FHI]

Follow us: @forum_hijau

masih ada hal yang harus dilakukan!

masih ada hal yang harus dilakukan!
dalam masalah ini masih ada yang harus dilakukan, untuk masalah ini. selama waktu masih berdetak, selama masa ini masih berputar silih berganti siang dan malam, maka masih banyak yang harus dilakukan. banyak hal yang harus diperbuat. masih banyak waktu yang harus digunakan untuk memberikan kebermanfaatan. masih harus bermanfaat. perjuangan masih panjang, sedang waktu makin sempit saja menghimpit, harus selalu lakukan yang bermanfaat. masih banyak hal yang harus dilakukan, untuk diri ini, untuk orang lain, dan untuk alam ini. aku harus lantang dalam berjuang, karena masih ada waktu meski aku tak tahu sampai kapan waktuku, tapi aku harus memberi manfaat. masih banyak hal yang harus dilakukan!!!!

Organisasi Pecinta Alam

Organisasi Pecinta Alam pada era sekarang ini tumbuh pesat di masing – masing daerah. Dan apabila kita mendengar istilah Pecinta Alam, maka dalam pikiran kita langsung terbayang para pendaki gunung, pengarung arus deras, pemanjat tebing dan penggiat hiking serta camping. Sedangkan bagi yang mencintai alam lingkungan, penanam dan perawat pohon – pohon dan bunga – bunga serta penjaga fauna, bukan pecinta alam?
pecinta alam
Beberapa kelompok memang lebih jelas, mereka menamakan kelompok pendaki gunung, pemanjat tebing, penjelajah rimba dan penelusuran gua. Sementara beberapa tetap bertahan dengan istilah pecinta alam karena didorong rasa cinta terhadap alam. Sehingga seorang ‘pecinta alam’ adalah individu yang diyakini tanggap terhadap masalah alam dan lingkungannya.

Secara kelembagaan, kelompok pecinta alam di Indonesia muncul sekitar tahun 1950 – an ketika sekelompok pemuda di Yogyakarta yang memang mengamati tumbuhan dan hewan melakukan perjalanan menembus gunung dan rimba. Lalu di tahun 1960 – an muncul kelompok WANADRI di Bandung, MERMOUNC di Yogayakarta, MAPALA UI di Jakarta.

Kelompok Wanadri lebih suka menyebut dirinya pendaki gunung penempuh rimba. Mermounc adalah kependekan dari Merbabu Mounteneer Club ( kelompok pendaki gunung Merbabu ). Sedang Mapala UI menyebut dirinya sebagai Pecinta Alam dengan menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan yang bersifat Avonturir mendominasi pada masa awal kegiatan pecinta alam.

Pada tahun 1970 – an lahir kelompok – kelompok pecinta alam dikalangan mahasiswa, pelajar, dan pemuda di daerah – daerah. Kegiatan mereka paling menonjol adalah hiking dan mendaki gunung. Pada dekade 1980 – an muncul kelompok – kelompok spesialis – spesialis seperti HIKESPI untuk para speleolog / caver / penelusur gua, dan SKYGERS untuk pemanjat tebing.

Organisasi pecinta alam kemudian mengembangkan kualitas dan variasi kegiatannya antara lain Rock Climbing, Susur Gua , Arung Jeram dan kegiatan petualangan lainnya. Disatu sisi mereka juga melakukan kegiatan ekspedisi, penelitian, ceramah dan diskusi untuk menanggapi permasalahan – permasalahan lingkungan.

Kelompok pecinta alam adalah independent, tidak dibawah instansi maupun departemen. Organisasi pecinta alam yang tumbuh dilingkungan masyarakat ( umum ) ataupun yang dibawah lingkungan perguruan tinggi mempunyai misi tentang pelestarian alam. Forum tertinggi dalam pecinta alam adalah Gladian Nasional Pecinta Alam se – Indonesia yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali, dimana dalam forum gladian ini telah dihasilkan Kode Etik Pecinta Alam Indonesia.

Di Yogyakarta terbentuk Sekretariat Bersama Perhimpunan Pecinta Alam Yogyakarta ( SEKBER PPA – DIY berdiri pada tahun 1979 ), sebagai ajang komunikasi, koordinasi dan informasi.

Pecinta Alam Dan Lingkungan

“Pecinta Alam”, sebenarnya adalah orang yang paling diyakini mempunyai kesadaran akan lingkungan. Sebagai kelompok yang menggunakan media alam bebas dalam bekegiatan, pecinta alam dituntut untuk mempunyai kesadaran yang tinggi dan didukung dengan tindakan terhadap pelestarian alam. Organisasi pecinta alam dalam berbagai bentuk dan visinya adalah orang – orang yang paling dekat dengan alam. Banyak hal bisa diperbuat dalam setiap kegiatannya dalam rangka pelestarian alam. Bentuk ‘Aid’ adalah yang paling sering dilakukan organisasi pecinta alam, karena mudah dan tidak beresiko karena sifatnya sementara, tetapi hal ini sering tidak tepat untuk sebuah kegiatan yang berlingkungan ( contoh; penghijauan disebuah lokasi, kemudian ditinggalkan ).

alam

“Development”, sebuah kegiatan jangka panjang, memerlukan biaya yang besar, beresiko tinggi, adalah hal yang sukar dilakukan. Masalahnya adalah sejauh mana kita bisa memotifasi untuk mewujudkan kegiatan tersebut. Sebuah desa binaan, sangat gersang, mengalami erosi secara besar – besaran, kita kunjungi secara tetap, memecahkan masalah bersama, menerapkan ilmu secara tepat dan kita merasa “at home” disana, adalah ilustrasi yang jelas tentang “development”

Pecinta alam adalah sebuah pusat informasi yang tidak kelihatan, tidak memanfaatkannya adalah kesalahan besar, terutama bagi mereka sendiri. Permasalahannya adalah ketidak konsistennya antara perilaku dan sikap pecinta alam sendiri. Sikap yang positif terhadap lingkungan hidup tidak berarti perilaku yang positif pula.

Lalu apa yang dapat kita lakukan? Tidak ada !………Selama kita belum membuat ‘Gentlement agreement’ diantara kita. Bahwa kita menyadari adanya permasalahan lingkungan yang timbul, kita dapat menanganinya secara terbuka, gamblang dan terurai sampai pada hal yang terperinci sekalipun. Tidak hanya menangani pada hal – hal yang berada pada permukaan saja, dan menutupi permsalahan kecil supaya menjadi besar.

Dalam kehidupan pecinta alam antara sikap dan perilaku haruslah selaras, untuk menghindari semboyan Green Peace menjadi kenyataan.

“Jika pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir telah tercemar, ikan terakhir telah ditangkap, Anda akan sadar manusia tidak dapat makan uang”

Sumber: Materi dasar – dasar pecinta alam MADAWIRNA UNY

sang arsitek

aku berjalan menurut apa langkah yang aku fikirkan. aku hanya manusia biasa yang tetap saja punya impian tinggi.

Melangkah setapak untuk jejak keindahan hidup dan kekuatan impian, merangkainya selayak seni. karena seni itu lahir dalam diriku sendiri dan diriku sendiri adalah seni itu sendiri.

Seni bukan tentang penampilan tapi tentang hati, tentang jiwa, yang sumbernya dari rasa.

Satu hal yang pasti “aku cinta damai, tapi lebih cinta kemerdekaan”. . .

Kawan, beranilah bermimpi besar, lalu tulislah.

Dan lihatlah kemudian betapa luar biasanya rencana Allah untuk kita.

Karena seberapa besar rencana kita, rencana Allah jauh lebih luar biasa.

Maka kawanku, beranilah engkau bermimpi besar!

Lampauilah keraguanmu dan temukan keajaiban-keajaiban di dalamnya. . . . .

 

sang arsitek jalanan

belajar ke alam raya

Alam mengajarkan betapa banyak keindahan dan keteraturan yang luar biasa dari ciptaan Tuhan. Air mengalir begitu menenangkan, debur ombak dan lautan yang paling menantang untuk diseberangi. Nusantara indah dengan gugusan pulau dan karang-karang. Angin yang menghembuskan kesejukan mengoyangkan pucuk-pucuk daun dan nyiur di tepian pantai. Dan sesungguhnya di alam terdapat banyak objek pembelajaran.
Dari air kita bisa banyak belajar bahwa hidup harus senantiasa berkomitmen, seperti air yang akan terus mengalir ke bawah meski harus terhalang oleh batu besar. Dari air kita juga bisa belajar bahwa semakin kita berusaha dan bersungguh-sungguh kita pasti bisa, seperti tetes-tetes air yang terus-menerus menetes hingga dapat melubangi batu yang keras sekalipun. Dari sungai kita belajar bahwa hidup tak selamanya berjalan lurus, akan ada kelok-kelok liku-liku kehidupan yang justru akan menjadikan jalan ini indah. Kemudian dari laut kita belajar bagaimana angin dan air bersama-sama memperjalankan bahtera, memindahkan orang dari satu daratan ke daratan lainnya, mempersatukan orang yang dulunya berjauhan.
Sobat greeners, tahuhkah bahwa pelajaran di alam sungguh bisa melebihi pelajaran yang diajarkan oleh para guru dan dosen kita. Dari sebatang pohon saja kita bisa belajar banyak di tiap bagiannya. Dari daun kita belajar mengenai kontribusi, bagaimana daun telah menyumbangkan betapa banyak oksigen bagi kehidupan kita, padahal sering kali kita tidak memperhatikan tanam-tanaman dan pepohonan di sekeliling kita. Dari akar kita belajar tentang pengorbanan, akar rela hanya kelihatan sedikit bagiannya demi menegakkan sebatang pohon, dan akar akan terus membenamkan dirinya demi tegaknya pohon itu, sungguh pengorbanan yang luar biasa. Dari batang kita bisa belajar untuk menegakkan dan memeberi kesempatan pada daun agar bisa meraih sinar matahari, sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh daun. Dari bunga kita belajar tentang kontribusinya mencetak generasi berikutnya yang akan mempertahankan keberadaan generasi sang pohon, meski keberadaan bunga hanya sebentar tetapi bunga menyadari bahwa waktunya yang sebentar itu harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga tugas yang diembannya terselesaikan tepat pada waktunya dan mewariskan generasi berikutnya. Kemudian dari buah kita bisa belajar untuk melindungi generasi penerus kita, memberi bekal kepada calon-calon pengganti mereka hingga mereka dapat tumbuh dan menjadi pribadi yang akan melangsungkan keturunannya.
Sobat greeners, betapa besar karunia Allah, terutama karunia alam yang harus kita syukuri. Betapa banyak ilmu-ilmu yang dapat kita peroleh dari alam sekitar kita. Alam tak hanya mengajarkan, tapi telah memberikan contoh begitu banyak kepada kita, asal kita mau memikirkan dan memahami lebih dalam hal-hal di sekitar kita. Karena alam adalah tempat belajar, alam adalah tempat bermain, alam tempat berkreasi dan menikmati hidup, maka belajarlah dari alam. Masih banyak pelajaran yang kita bisa dapatka dari alam. Mungkin jutaan bahkan triliun ilmu bisa kita dapatkan di alam yang apabila kita telusuri lebih mendalam akan ditemukan betapa karunia dan kebesaran Allah sangat luar biasa dahsyat.
Sobat greeners, jelajahilah alam raya ini, lihat betapa luar biasa alam ini, indah dan begitu teratr, bukan? Begitu banyak warna. Banyak hal-hal baru yang akan kita dapatkan pokokelah. Yang terpenting saat menjelajahi alam ini kita jangan sampai malah merusaknya. Kita harus menjaga alam ini tetap lestari, agar kelak orang lain atau anak-cucu kita dapat menikmati indahnya alam ini dan mengambil pelajaran yang ada di dalamnya. Salam Sobat Greeners, Salam Lestari!

LESTARI RIMBA RAYA